5 alasan untuk tidak menjadi programmer jika pendidikan Anda cukup baik

Posted on
Rate this post

5 alasan untuk tidak menjadi programmer jika pendidikan Anda cukup baik

5 alasan untuk tidak menjadi programmer jika pendidikan Anda cukup baik

Sebagian besar mahasiswa ilmu komputer akan mendaftar di perusahaan sebagai programmer atau pengembang perangkat lunak setelah mereka lulus. Itu memang sangat wajar. Mengingat industri software belakangan ini memang sudah sangat maju. Bahkan, para pemain di industri software berlomba-lomba mengembangkan produknya agar tidak ketinggalan dengan kompetitornya.

Misalnya, lihat Google Play Store. Jika kita melihat daftar aplikasi kita, selalu ada pembaruan dalam jangka waktu tertentu. Tetapi apakah pekerjaan programmer adalah pekerjaan yang menjanjikan? Apakah mungkin menjadi programmer sampai tua?

Padahal, programmer atau software engineer terdiri dari berbagai posisi. Mulai dari programmer desktop, mobile dan website. Jabatan tersebut juga dibagi lagi menjadi front-end engineer dan back-end engineer, baik programmer junior maupun programmer senior. Faktanya, banyak posisi yang ditawarkan, dan programmer dapat dengan mudah memilih posisi yang ditawarkan secara bebas.

Namun bagi Anda yang sudah mendapatkan gelar sarjana harus berpikir dua kali sebelum mendaftar sebagai programmer. Seorang sarjana memiliki pengetahuan yang luas dan lulusan diharapkan menjadi pemimpin. Sedangkan siswa atau lulusan SMK yang lulusannya bercita-cita menjadi tenaga kerja terampil. Tidak seperti siswa SMK dan mahasiswa pascasarjana, siswa Strata 1 belajar mengelola proyek, mempelajari berbagai metodologi untuk tujuan proyek, dan berinovasi. Itu sebabnya Anda tidak boleh menjadi seorang programmer jika Anda sudah memiliki gelar sarjana. Lebih spesifiknya, inilah 5 alasan untuk tidak menjadi programmer jika pendidikan Anda cukup tinggi.
1. Gaji tidak seberapa
Gambar: Piksel

Anda pasti telah membaca berkali-kali di berbagai situs web tentang gaji seorang programmer yang luar biasa. Sangat menyenangkan ketika kita membacanya karena dengan harapan kita tidak akan menjadi orang yang sulit. Tapi jangan langsung percaya. Payroll adalah gaji programmer di negara maju yang sangat dihargai oleh programmer.

Berbeda dengan Indonesia, masih banyak yang belum mengetahui apa itu programmer. Kalaupun sudah tahu apa itu programmer, programmer juga dianggap remeh. Banyak di berbagai daerah di Indonesia hanya membayar upah minimum programmer. Bayangkan Anda belajar keras dan orang tua Anda mengeluarkan banyak uang, Anda sebenarnya tidak mendapatkan gaji kecil dengan kerja keras.
2. Pikiranmu selalu memar
Gambar: Piksel

Jika Anda bukan seorang programmer dan Anda membaca artikel ini, Anda mungkin berpikir bahwa pekerjaannya akan membebani pikirannya juga. Tetapi jika Anda sudah tahu apa itu pemrograman, semuanya menjadi berbeda. Pemrograman tidak hanya mengetik. Sebagai seorang programmer, selalu pikirkan bagaimana memecahkan masalah pemrograman agar sistem tetap berjalan dengan lancar. Belum lagi pembuatan kode program tidak selalu mulus, terkadang kita menemukan bug pada kode yang kita buat. Itu benar-benar meremas pikiran seorang programmer.

3. Otakmu tidak mengenali hari libur

Rata-rata, sebuah perusahaan memberikan satu hari libur pada hari Sabtu dan Minggu. Bagi para karyawan, dua hari ini digunakan sebagai hari untuk beristirahat dan menenangkan diri. Tapi jangan berharap kondisi ini berlaku jika Anda seorang programmer. Padahal, Sabtu dan Minggu juga merupakan hari libur nasional. Namun sayang, karena otaknya selalu terjepit, maka pada hari Sabtu dan Minggu terus menerus memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah pemrograman. Sehingga Anda terus memikirkan masalah pemrograman hari demi hari sampai Anda masih memikirkan pekerjaan Anda di akhir pekan.
4. Selalu perlu belajar hal baru
Gambar: Piksel

Tentu saja, jika Anda seorang programmer, Anda sudah tahu bahwa ada berbagai alat dan metode pengembangan perangkat lunak yang berbeda. Tentu saja, Anda tidak mempelajari semua ini dalam kuliah. Di universitas, hanya konsep pemrograman yang dipelajari, sehingga tidak ada masalah dengan berbagai alat. Namun bagi Anda yang merasa sulit untuk belajar sendiri, hal ini menjadi momok tersendiri. Jadi menjadi seorang programmer bukanlah pilihan yang tepat. Tetapi jika Anda senang mempelajari hal-hal baru, jadilah seorang programmer dengan mempertimbangkan poin-poin lain dalam artikel ini.

Sumber :