Profil Sukanto Tanoto, Raja Sawit yang Beli Bekas Istana Raja

Posted on

Karakter Sukanto Tanoto, pengusaha sawit kaya raya yang membeli bekas istana raja Jerman seharga 6 triliun

profil-sukanto-tanoto

Sosok salah satu orang terkaya di Indonesia sempat menjadi pusat perhatian di awal tahun 2021 karena properti mewah yang dibelinya.

Bangunan yang konon dibeli oleh seorang taipan kelapa sawit bernama Sukanto Tanoto itu bukan sembarang properti, melainkan bekas istana Raja Jerman.

Sebuah dokumen yang diterbitkan bekerja sama dengan wartawan internasional pada proyek OpenLux mengutip Kompas, di mana Sukanto Tanoto dan putranya Andre Tanoto disebut-sebut sebagai pemilik ilegal bangunan mewah di Jerman.

Menurut dokumen tersebut, Andre Tanoto membeli satu dari tiga bangunan mewah karya arsitek terkenal Frank O. Gehry di Düsseldorf pada 2019.

Tentu saja, gedung tersebut dibanderol dengan harga selangit 50 juta euro atau sekitar Rp. 847 miliar.

Tidak lama setelah putranya “membeli” gedung super mahal itu, Sukanto membeli bekas Palais Raja Ludwig di Munich, yang merupakan gedung empat lantai dan sekarang menjadi markas perusahaan asuransi Allianz di distrik elit Ludwigstrasse.

Tidak main-main, pengusaha kaya raya itu merogoh kocek 350 juta euro atau setara Rp. 6 triliun untuk memilikinya.

Anda yang belum mengetahui karakter Sukanto Tanoto mungkin bertanya-tanya siapa pria ini.

Sukanto Tanoto adalah pengusaha Indonesia yang memiliki grup bisnis Royal Golden Eagle International (RGEI), sebelumnya bernama Raja Garuda Mas dan berbasis di Singapura.

Konglomerat ini juga sering masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia, salah satunya ketika namanya berada di peringkat 22 orang terkaya di Nusantara.

Pria kelahiran 25 Desember 1949 ini memulai karir berwirausaha dengan menjalankan bisnis keluarga sejak ayahnya meninggal.

Dia terkenal karena menyediakan suku cadang dan jasa konstruksi untuk industri minyak pada tahun 1967.

Pria berusia 71 tahun itu juga membangun pabrik pertukangan kayu pertama di Indonesia yang dibuka pada tahun 1975.

Meski tidak menyelesaikan pendidikan formalnya di sekolah, Sukanto adalah seorang wirausahawan yang cakap secara otodidak – ini menunjukkan karirnya yang semakin berkembang di dunia bisnis hingga saat ini.

Selain bisnis, ia adalah seorang filantropis terkenal untuk Tanoto Foundation, yang ia dirikan sebagai kontribusi untuk pendidikan dan penelitian teknologi.

Tanoto Foundation juga menjadi salah satu sponsor Asian Games 2018 di Indonesia.

Nama Sukanto juga mengemuka saat pemerintah mengumumkan wacana pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur karena sebagian besar lahan terancam dievakuasi akibat proyek di Kabupaten Penajam Paser Utara.

Menurut Forbes, kekayaan bersih Sukanto Tanoto adalah $ 1,35 miliar atau setara dengan 19,07 triliun rupee dan 2.141 miliarder di seluruh dunia.

Sukanto dan keluarganya telah tinggal di Singapura sejak tahun 1997, namun masih berstatus warga negara Indonesia.

Sumber :